Apa yang membuat Kerinci begitu spesial di mata saya? Tentunya selain dari faktor yang memang sudah jelas, bahwa ia adalah tanah kelahiran ayah saya.
Bagaimana dengan ini? :
Papan nama jalan dengan aksara Incung/Rencong Kerinci |
Lalu mengenai aksara Incung sendiri, aksara ini menjadi indikasi kemapanan budaya Kerinci yang sama sekali berbeda dari budaya Minangkabau dan Jambi. Aksara yang dulunya mulai terlupakan ini, mulai tahun depan akan dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah umum di Kabupaten Kerinci - satu hal yang patut disyukuri untuk kelestarian keunikan budaya Kerinci secara keseluruhan.
![]() |
Aksara Incung/Rencong Kerinci sumber:wikipedia |
Satu hal yang sudah jelas, bahwa dibutuhkan penelitian-penelitian dan penggalian-penggalian arkeologi yang lebih komprehensif untuk menguak tabir dan mempelajari sejarah masyarakat dan budaya Kerinci dengan lebih mendalam. Bila selama ini anda kurang mengenal keunikan budaya dan masyarakat Kerinci bisa dipahami dari karakter umum masyarakatnya yang cenderung low profile. Itulah mengapa kata-kata pembuka seri tulisan kali ini saya tulis dengan kalimat: "...di sebuah kota kecil yang rendah hati."
***
Di hari-hari selama saya berada disana, di sela-sela waktu yang bisa saya dapatkan untuk hunting, saya memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi kota dengan ditemani dengan kemenakan dan saudara sepupu. It was such a nice experience - pengalaman yang benar-benar menyenangkan dimana saya bisa lebih meresapi atmosfir sebuah kota kecil yang bersahaja.
Busy hour sepanjang jalan R.E. Martadinata Sungai Penuh. |
Dua siswi SMP Negeri 1 Sungai Penuh. Tadinya saya pikir seragam mereka adalah seragam sekolah swasta... :p |
Menjelang sorenya, saya diajak untuk mengunjungi salah satu masjid tertua di Sungai Penuh: Masjid Agung Pondok Tinggi. Masjid yang dibangun di tahun 1874 ini merupakan peninggalan sejarah yang dilindungi dengan keunikan-keunikan yang bisa dibaca di tautan sebelumnya.
Setelah melaksanakan shalat sunnah tahiyyatul masjid sebelumnya, saya mulai memotret bagian dalam masjid tersebut:
Interior Masjid Agung, dengan mimbar di kanan dan mihrab dibalik tiang. |
Detail mihrab... |
...dan mimbar dengan ukiran-ukiran dan warna-warni yang mengagumkan. |
Serta tabuh larangan (beduk besar) yang hanya dibunyikan untuk tanda bahaya. |
Beduk lain yang lebih kecil - yang saya lupa memotretnya (@#&*!!! - ahem, maaf, saya hanya mengumpati kebodohan diri sendiri :| ) - terletak diluar masjid yang masih digunakan sebagai pengingat waktu shalat telah tiba.
Saya tidak memiliki waktu yang cukup lama untuk memotret lebih banyak karena sudah harus beranjak untuk menghadiri acara-acara keluarga lainnya. Tapi saya masih sempatkan untuk memotret eksterior masjid ini dengan teknik favorit saya: HDR.
Masjid Agung Pondok Tinggi dalam HDR |
So I just make do with what I've got. Berhenti mengeluh dan tetap memotret, dengan angle lain sebagai variasi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar